SURAKARTA – News FHH,
Krisis lingkungan yang melanda dunia saat ini bukan hanya persoalan kenaikan suhu bumi atau cuaca ekstrem. Di balik fenomena tersebut, tersimpan masalah mendasar yang perlu segera disadari: krisis kesadaran manusia dalam memaknai hubungan dengan alam.
Hal tersebut disampaikan Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Dewi Gunawati, M.Hum, dalam pandangannya mengenai perubahan iklim yang kian mengancam keberlangsungan hidup manusia. Jum’at 05 Desember 2025
Menurut Dewi, relasi manusia dan alam telah berubah drastis ketika alam diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi. “Kita lupa bahwa manusia adalah bagian dari jejaring kehidupan yang saling bergantung. Ketika kesadaran itu hilang, pilihan hidup kita pun menjadi destruktif,” ujarnya.
Perubahan Iklim, Bumi Mengirim Sinyal Bahaya
Laporan ilmiah internasional menunjukkan dampak pemanasan global semakin nyata. Musim yang bergeser, bencana ekologis yang meningkat, hingga peringatan keras dari Sekjen PBB Antonio Guterres tentang “bunuh diri massal dengan karbon”, adalah alarm bagi umat manusia.
Aktivis lingkungan Greta Thunberg menyebut kondisi tersebut sebagai destruction disguised as progress,kehancuran yang dipasarkan sebagai kemajuan.
“Pertumbuhan tanpa batas bukan lagi simbol kemajuan. Ketika keberlanjutan dikorbankan, itu justru kemunduran moral dan spiritual,” kata Dewi.
Kewarganegaraan Ekologis
Menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok aktivis. Konsep ecological citizenship menegaskan bahwa setiap individu turut memikul tanggung jawab sosial atas keberlanjutan lingkungan.
“Pilihan sehari-hari kita cara makan, bepergian, hingga mengelola sampah,semua menentukan masa depan bumi,” tegas Dewi.
Kearifan Lokal: “Handarbeni” Bumi
Indonesia sejatinya memiliki nilai budaya yang mampu memperkuat kepedulian ekologis. Dalam Serat Wedhatama, Mangkunegara IV menanamkan nilai handarbeni bumi: merasa ikut memiliki, menjaga, serta berani mawas diri.
“Jika manusia merasa menjadi bagian dari bumi, ia tidak menunggu perintah untuk menjaga. Ia akan bergerak karena cinta dan tanggung jawab,” tutur Dewi.
Nilai ini, kata Dewi, sejalan dengan konsep sisu di Finlandia yang menekankan ketangguhan dalam menjaga alam.
Spirit Baru dalam Merawat Kehidupan
Dewi menegaskan bahwa upaya edukasi, kebijakan publik, maupun penelitian ilmiah tidak cukup jika tidak dilandasi rasa keterhubungan yang tulus dengan alam.
“Kita tidak kekurangan data tentang perubahan iklim. Yang kurang adalah kesadaran bahwa bumi adalah rumah, bukan tempat yang bisa kita rusak sesuka hati,” ucapnya.
Ia menegaskan, menyelamatkan bumi pada akhirnya berarti menyelamatkan manusia sendiri dari kehilangan arah, makna, dan kemanusiaan.
“Bumi dapat pulih tanpa manusia. Tetapi manusia tidak dapat hidup tanpa bumi.”
( Hendra )
