Sukabumi – Tradisi Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya menjadi agenda adat tahunan masyarakat kasepuhan. Lebih dari itu, tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini dinilai sebagai warisan budaya yang sarat dengan nilai pendidikan karakter, pelestarian lingkungan, serta penguatan ketahanan pangan yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi, Herdiawan Waryadi, mengatakan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Seren Taun perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus arus modernisasi. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan salah satu bentuk pembelajaran nyata yang mampu menanamkan karakter positif kepada peserta didik melalui kearifan lokal.
“Seren Taun bukan sekadar seremoni adat atau ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan yang sangat kuat, mulai dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, semangat gotong royong, penghormatan terhadap alam, hingga pentingnya menjaga ketahanan pangan,” ujar Herdiawan Waryadi, Senin (6/7/2026).

Pria yang akrab disapa Kang Herdi itu menjelaskan, salah satu prosesi utama dalam Seren Taun adalah ngampih pare ka leuit, yakni mengarak padi menuju Leuit Si Jimat sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Prosesi tersebut bukan hanya simbol budaya, melainkan juga mencerminkan filosofi masyarakat adat dalam memandang padi sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan dimanfaatkan secara bijaksana.
“Prosesi Seren Taun yang ditandai dengan ngampih pare ka leuit atau mengarak padi menuju Leuit Si Jimat menjadi simbol bahwa masyarakat adat tidak hanya memandang padi sebagai hasil pertanian, tetapi juga sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati,” ungkapnya.
Menurut Kang Herdi, filosofi tersebut selaras dengan arah penguatan pendidikan karakter yang saat ini terus dikembangkan di lingkungan pendidikan. Nilai-nilai budaya lokal dinilai mampu menjadi media pembelajaran yang efektif karena memberikan pengalaman nyata kepada generasi muda tentang pentingnya hidup selaras dengan alam, menghargai budaya, serta menjaga kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menilai pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga harus mampu membentuk karakter peserta didik yang memiliki kepedulian sosial, cinta lingkungan, serta bangga terhadap identitas budaya daerahnya.

“Budaya lokal merupakan sumber pembelajaran yang sangat kaya. Melalui tradisi seperti Seren Taun, generasi muda dapat belajar tentang tanggung jawab, kebersamaan, kemandirian, hingga pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam,” katanya.
Lebih jauh, Herdiawan berharap keberlangsungan Seren Taun dapat terus dijaga sebagai bagian dari upaya melestarikan identitas budaya Kabupaten Sukabumi. Ia juga mendorong agar nilai-nilai yang hidup dalam tradisi adat dapat diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pendidikan sehingga semakin dikenal dan dipahami oleh kalangan pelajar.
Sementara itu, pelaksanaan Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi berlangsung khidmat dan semarak. Ribuan masyarakat, tokoh adat, tamu undangan, hingga wisatawan turut memadati kawasan kasepuhan untuk menyaksikan rangkaian prosesi adat yang telah menjadi tradisi selama ratusan tahun.
Berbagai kegiatan budaya mewarnai perhelatan tersebut, di antaranya prosesi tumbuk padi, saresehan bersama baris olot kasepuhan, arak-arakan dongdang, pertunjukan dogdog lojor, rengkong, gondang buhun, seni debus, tari tani, hingga pameran karya incu putu Kasepuhan Sinar Resmi.
Rangkaian prosesi tersebut tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga menjadi ruang pewarisan nilai dan pengetahuan antargenerasi. Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial, Seren Taun tetap menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki peran penting dalam membangun karakter masyarakat yang berakar pada nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan rasa syukur atas anugerah kehidupan.
(Asep, SH)
