Sukabumi – Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sukabumi, Drh. Asep Kurnadi mengatakan, pemilihan Jampang Tengah dan Nyalindung untuk kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Pengendalian Penyakit Zoonosis Berbasis One Health. bukan tanpa alasan. Diketahui Kedua kecamatan memiliki aktivitas peternakan dan interaksi manusia-hewan yang tinggi.
Tujuannya jelas: menyamakan persepsi dan memperkuat kapasitas. Melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan, semua pihak diharapkan bisa mencegah, mendeteksi dini, dan merespons cepat potensi wabah.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (02/07/2026), ini menyasar Kecamatan Jampang Tengah dan Nyalindung sebagai wilayah percontohan
“Wilayah pesisir dan pegunungan ini rawan transmisi zoonosis. Kalau tidak ada sistem deteksi dini, penyebaran bisa cepat dan sulit dikendalikan,” ungkapnya
Materi yang diberikan komprehensif. Mulai pengenalan penyakit zoonosis prioritas, faktor risiko penularan, prinsip biosekuriti kandang, sampai mekanisme pelaporan kasus. Puncaknya simulasi alur pelaporan via sistem Z-ALERT.
Z-ALERT dirancang sebagai sistem pelaporan berbasis digital. Ketika ada gejala mencurigakan pada hewan atau manusia, kader atau petugas bisa langsung input data. Sistem otomatis meneruskan ke petugas kesehatan hewan, Dinkes, dan BPBD.
“Zoonosis tidak dapat ditangani oleh satu sektor saja. Dibutuhkan kolaborasi kuat antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, pemerintah daerah, akademisi, hingga masyarakat. Melalui One Health dan Z-ALERT, kami ingin membangun sistem deteksi dini yang mempercepat pelaporan, koordinasi, dan penanganan kasus secara terpadu,” tambahnya
Distan menargetkan Jampang Tengah dan Nyalindung jadi model. Evaluasi 3 bulan ke depan akan jadi acuan. Jika efektif menurunkan waktu respon dan meningkatkan cakupan vaksinasi, Z-ALERT akan digulirkan ke 45 kecamatan lain.
“Deteksi Cepat, Aksi Tepat, Sukabumi Sehat. Ini bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata kita bersama,” pungkasnya
Pemkab Sukabumi menegaskan komitmen menghadirkan inovasi pelayanan publik responsif. Penguatan kolaborasi lintas sektor via One Health diharapkan wujudkan masyarakat sehat dan tangguh menghadapi ancaman zoonosis.
Peserta bimtek berasal dari unsur pemerintah kecamatan, kepala desa, petugas kesehatan hewan, tenaga kesehatan puskesmas, penyuluh pertanian, kader posyandu, peternak, hingga tokoh masyarakat.
(Asep, SH)
